11 Sekawan Dalam Petualangan Gila (Part II)

Catatan 07 - 09 Februari 2009

(Lanjutan)

08 Februari 2009
Hujan begitu lebat. Entah berapa gelontor lagi yang akan tiba. Waktu menunujukkan pukul 05.15. Prosesi sunrise akan dimulai beberapa menit lagi. Tapi tampaknya cuaca buruk menghalangi kami untuk melihat sunrise. Mimpi kami tetap menjadi mimpi. No sunset, no sunrise. Kecewa sedikit membelenggu kini.

Cuaca membaik ketika pagi tiba. Kami kembali menyambangi pantai untuk bermain ombak. Air yang surut membuat batuan karang menyembul ke permukaan. Secara hati-hati, kami menjejaki batuan karang itu. Berusaha menemukan sudut-sudut indah untuk berfoto. Entah karena terlalu bersemangat atau memang kurang hati-hati, seorang teman terpeleset di salah satu batu karang. Arrrghhh.. sontak semuanya berteriak dan membantu ia untuk berdiri. Syukurlah ia hanya mengalami lecet pada lengan kirinya. Setelah itu, kami tidak henti menasehatinya untuk lebih berhati-hati. Cukup lama kami bermain ombak di tengah bebatuan karang. Air yang kemudian meninggi memaksa kami kembali ke tepi pantai.

Semuanya seperti terbungkam dalam sketsa; indah untuk dinikmati tapi tak hendak melibatanku serta. Riang yang ada tetap tak mampu meredakan resah ini. Dalam kilatan pesona Laut Jawa, rasa rindu itu menyapaku lagi dan menuangkan kesepian dalam diri. Dia yang berlabuh dalam mimpi selalu menyisakan rindu pada hatiku. Ratusan kilometer ternyata tak mampu membuat spasi. Keceriaan ini terasa menyakitkan karena tak bisa ku bagi bersamanya.

Ingin ku jemput dia saat ini juga untuk berbagi sinar matahari dan ombak yang sama denganku. Mengarungi lautan dengan perahu-perahu cadik. Membuat menara pasir yang menjulang tinggi. Ataupun sekedar menyusuri pantai dalam rekatan jemari. Oh.. God. Rindu ini mulai menggila.

Hari sudah semakin tinggi, kami tak boleh terlena disini. Setelah menghabiskan menu makan siang; cumi dan ikan bakar, kami selesaikan administrasi penginapan dan melanjutkan berkendara. Ada keindahan yang ku rasakan ketika hendak berbalik pergi dan meninggalkan Pantai Santolo. Ku biarkan semua kesan tertinggal, larut bersama ombak di tepi samudera untuk seterusnya ku rekam erat dalam benak. Lazuardi begitu indah dan laut tetap menyisakan banyak misteri.

Tujuan berikutnya adalah tempat pemandian air panas di jantung Kota Garut. Mungkin karena daerah wisata ini menyediakan fasilitas air panas alami sehingga dinamakan Cipanas yang berarti air yang panas. Perjalanan yang kami tempuh untuk sampai disana tergolong mudah dan sama sekali tanpa hambatan. Jauh berbeda dengan perjalanan kami menuju Pantai Santolo kemarin. Kali ini, seakan alam memberikan restu. Gunung Gelap yang sukar ditempuh pun mendadak jadi mudah kami lalui.

Cuaca begitu sempurna. Panas yang tak begitu terik dan tak menyisakan awan mendung. Hanya tak ku nikmati berkendara serupa ini. Macet, kendaraan parkir seenaknya di bahu jalan, tata kota yang sembrawut. Hah.. pemandangan yang terlalu biasa ku jumpai. Akhirnya kami sampai di penginapan yang dituju. Hotel bintang dua yang sebenarnya tidak terlalu pas dengan harapan kami. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot mengenai harga, kami jadi menyewa satu cottage di bagian paling atas kawasan hotel tersebut.

Jujur lebih ku nikmati jam-jam yang kami habiskan di Pantai Santolo daripada disini. Nuansa perkotaan kental menyelimuti penginapan. Penjaja nasi goreng dan mie instant bertebaran di sana-sini. Ketenanganku seringkali terusik oleh banyaknya orang yang berlalu-lalang di area penginapan. Sebagian teman berusaha mengurangi rasa suntuk dengan berjalan-jalan sementara aku dan beberapa teman yang tersisa disini menghabiskan menit demi menitnya di depan televisi.

Hari menjelang malam, sebagian teman belum jua kembali ke penginapan. Dingin mulai merasuk dan secara kebetulan, kolam pemandian sudah terisi penuh air panas. Tanpa pikir panjang, dua orang temanku menceburkan diri ke dalam kolam. Belum juga seluruh tubuh terbenam ke dalam air, mereka sudah berteriak dan buru-buru keluar menjauh dari kolam. Ternyata air di kolam itu bukan hanya panas secara kiasan tapi memang benar-benar panas. Air itu memang sengaja dibiarkan alami mengalir ke dalam kolam tanpa mengalami proses pendinginan terlebih dahulu. Aku yang semula terperanjat mendengar teriakan kedua temanku menjadi tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi muka mereka.

Tiba giliranku mencoba berendam di kolam itu. Satu per satu ku ceburkan bagian tubuh. Panas yang kemudian berubah hangat melapisi tiap inchi kulit. Begitu nyaman rasanya. Ingin ku berlama-lama berendam tapi beberapa kotak martabak hangat yang disajikan oleh teman-teman membuatku merasa lapar dan akhirnya keluar dari kolam. Teman-temanku memutuskan untuk berenang di kolam yang lebih besar. Awalnya ingin juga ku ikut berenang bersama tapi lelah lebih kuat mendera tubuh. Aku lagi-lagi memutuskan untuk tak ikut serta. Tempat tidur yang empuk menjadi puncak petualanganku hari ini


09 Februari 2009
Jam menunjukkan pukul enam. Suara alarm ponsel berbunyi bergantian, menyemarakkan pagi itu. Masih terlalu dini untuk bangun. Setelah lebih rapat ku selimuti tubuh, tiba-tiba teman-temanku menyingkap gorden dan menarik selimut dari tubuhku, memaksaku bangun. Dengan segera aku bangun sebelum teman-teman memeragakan gaya Smack Down ke tubuhku.

Ritual minum kopi dan rokok pagi sedang kami lakoni, tanpa mandi tapi sudah cuci muka dan gosok gigi tentunya. Tapi hari minggu pagi tak lengkap rasanya apabila dilalui tanpa olah-raga. Jadi meskipun beberapa temanku memutuskan untuk tidur lagi, aku memilih untuk berenang. Tenaga yang sudah pulih dan terkumpul penuh serasa pas untuk mengasah otot-otot yang kaku setelah lama berkendara. Tak kurang dari satu jam ku tempuh lintasan renang itu. Seandainya kolam renang itu tak dipenuhi padat pengunjung, mungkin ku masih betah berenang sampai beberapa jam ke depan.

Waktu bergulir tanpa terasa. Tepat pukul 10.30, kami tinggalkan penginapan itu dan bersiap-siap pulang menuju Bandung. Sebelum keluar dari Kota Garut, kami sempatkan mengisi perut kami yang mulai keroncongan. Tumbuh di Kota Kuliner membuat standar cita rasa kami akan makanan begitu tinggi. Meskipun sepanjang perjalanan terhampar banyak Rumah Makan tapi kami tetap kekeuh ingin makan di Rumah Makan Ampera. Sekarang tinggal aku yang kerepotan mencari alamat Rumah Makan itu. Setelah hampir setengah jam berkeliling, hasrat makan di Rumah Makan Ampera akhirnya terpenuhi.

Selanjutnya, kembali kami harus menyusuri padat jalanan kota. Menempuh puluhan kilometer berkendara. Sesekali, kegilaan masih dilakukan, seperti menyalip iring-iringan truk besar ataupun menggoda para pejalan kaki. Kurang kerjaan memang. Cuaca begitu bersahabat menaungi kami sampai tiba di Bandung. Segelas Es Kelapa Muda menyambut kepulangan kami di Kota Tercinta ini. Segarnya terasa hingga berjam-jam kemudian.

Kami menempuh lebih dari 300 kilometer perjalanan, melalui 55 jam bersama. Tidak ada oleh-oleh yang kami bawa selain rasa lega dan kepuasan yang luar biasa. Sebelum padat aktivitas mengharuskan kami menempuh jalan berbeda. Sebelum waktu membawai kami menorehkan masing-masing karya. Maka kami akan sanggup bercerita tentang pengalaman luar biasa yang tak mungkin terganti. Sebuah petualangan gila yang mengharuskan sebuah persahabatan diuji dan kemurnian cinta digali.

Daisy Grenita.
TAMAT

Rata Penuh
Pesan ini akhirnya tiba. Saat pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang memeluk pantaimu erat. Akulah langit beragam warna yang mengasihimu lewat beragam cara. Engkau hanya perlu merasa dan biarkan alam berbicara.
(Dee - Aku Ada / Recto Verso hal. 36)

11 Sekawan Dalam Petualangan Gila (Part I)

Catatan 07 - 09 Februari 2009


07 Februari 2009
Gerimis semakin membesar seiring bertambah ting
ginya mentari. Anggota tim belum berkumpul seluruhnya, terkesan masih terlalu pagi namun sudah terlambat beberapa menit dari jadwal yang disepakati. Tak apalah, mungkin mereka terjebak macet yang disebabkan oleh hujan. Ku periksa semua perlengkapan sekali lagi. Tidak satu pun terlewatkan; helmet, kaca-mata, jaket, jas hujan, sepatu dan ransel. Liburanku kali ini pasti akan terasa berbeda.

Tepat pukul sembilan pagi, awak tim terakhir tiba di lokasi keberangkatan.
Pendataan dimulai. Enam buah sepeda motor, 11 petualang. Semuanya melebur dalam antusiasme yang luar biasa. Siap menjelajah medan. Semua perlengkapan dipasangkan pada tubuh. Di garis start, ritual berdo’a tidak lupa dilaksanakan.


Kegilaan sudah mulai terasa dikala kami berkendara di dal
am hujan yang sesekali dihantui petir. Mengarungi terjal jalanan dengan kendaraan yang memang tidak diperuntukkan untuk itu. Belum genap satu jam pertama berkendara, salah satu sepeda motor mengalami pecah ban. Untuk 20 menit, perjalanan kami terhambat. Sementara itu, hujan semakin deras mendera. Maka diberlakukan sesi mengganti sepatu dengan sandal guna menjaga sepatu kami tetap kering.

Sebagai anak-anak yang tumbuh besar di himpitan gedung-gedung tinggi kota besar, melihat pantai dan laut secara langsung layaknya mimpi. Sebuah harapan dan pencapaian. Hal itu juga yang menjadi alasan kami rela menempuh jarak kurang lebih 155 kilometer menuju pantai indah di selatan Garut. Sebuah pantai bernama Santolo.

Menjelang waktu shalat Jum’at, sepeda motor lainn
ya mengalami pecah ban. Seorang awak berkelakar bahwa inilah waktu yang pas untuk pecah ban. Mungkin memang ada benarnya karena dengan begitu kami bisa sejenak menghempaskan lelah sembari menikmati makan siang. Sementara sebagian awak yang lain melaksanakan shalat jum’at dan mengganti ban sepeda motor. Istirahat siang itu terhitung terlalu lama bagi tim yang sedang berkendara. Dengan maksud memburu waktu, lekas kami melanjutkan perjalanan meski hujan belum reda sepenuhnya.

Cuaca akhirnya mulai bisa bersahabat.
Mentari terlihat menyembulkan diri meski sesekali tertutup awan. Lengang jalanan dan indahnya cuaca membuat kami lup
a akan jalanan yang masih basah dan memacu kendaran lebih cepat. Semuanya tampak berjalan sesuai rencana. Kami berkendara dalam komposisi terbaik. Merambati tiap jengkal jalanan dengan kecepatan tinggi yang konstan. Mendahului satu persatu kendaraan dengan mulus. Hingga di sebuah jalan lurus yang panjang, perjalanan ini menorehkan mimpi buruk. Hanya beberapa belas meter setelah melewati tikungan yang cukup tajam. Tepat di depanku, terlihat seorang awak tim terpelanting dari sepeda motornya setelah sebelumnya membunyikan klakson panjang. Spontan ku melambatkan kecepatan hingga akhirnya berhenti. Jantungku berdegup sangat cepat setelah melihat semuanya dari dekat. Oh.. God. Bukan hanya seorang awak yang terpelanting namun juga ada seorang anak kecil yang hampir tertindih oleh motor yang terbalik.

Massa mulai mengerubungi TKP. Suara rintihan anak kecil yang meraung-raung membuat kami semakin kalut dan gemetar. Hampir tidak ada diskusi. Massa memaksa pihak kami bertanggungjawab. Awalnya kami berkeberatan karena kecelakaan ini bukan sepenuhnya kesalahan teman kami yang mengendarai sepeda motor tapi kami takut kasus ini dibawa ke pihak berwenang. Maka tanpa banyak basa-basi, kami mendampingi korban untuk diperiksa ke puskesmas terdekat. Syukurlah, t
idak ada luka dalam yang berarti. Hanya memar dan syok yang mendera anak kecil itu. Setelah menyelesaikan administrasi pengobatan, kami langsung melanjutkan perjalanan.

Setelah itu, kami masing-masing berkendara dalam diam. Syok rupanya juga mendera kami tapi tidak untuk waktu yang lama. Senyum sudah mulai bisa mengembang
lagi ketika kami memasuki Gunung Gelap. Terjal jalanan berbatu membuat kami harus saling mendukung satu sama lain. Angin yang kencang berhembus beberapa kali merusak kestabilan sepeda motor. Kecepatan sudah jauh melambat. Tinggal ketangkasan mengendarai sepeda motor yang bisa diandalkan.

Belum usai perjalanan menempuh Gunung Gelap yang penuh ranjau lubang, giliran ban sepeda motorku pecah. Anjir. Hari mulai menjelang sore dan di tengah hutan pula. Beruntungnya signal ponsel belum benar-benar hilang hingga aku yang memang terting
gal di belakang bisa menelpon temanku agar kembali dan membantu memperbaiki sepeda motorku. Setengah jam yang berharga terbuang untuk mengganti ban sepeda motor. Tak habis ku rutuk kecerobohanku yang terlalu memaksakan sepeda motor.

Setelah itu, kami lanjutkan berkendara diiringi gerimis yang mulai datang lagi. Saat itu, entah mengapa bisa ku rasakan segalanya melebur harmonis. Seperti tembang ritmik yang terjalin apik di udara. Dengung halus suara Thunder. Kaos kaki basah. Punggung yang sudah kapalan. Iring-iringan indah motor yang menyusuri urat gunung. Senyum yang sesekali dibarengi tawa. Bun
yi klakson yang bersahut-sahutan. Semuanya amat istimewa. Ku syukuri nikmat merasakan kedamaian serupa ini.

Masih tersisa 35 kilometer lagi sebelum tiba di pantai. Semangat kami sudah menggebu-gebu. Lupa akan dinginnya cuaca. Berharap untuk secepatnya tiba dan menikmati sunset dari tepi pantai. Medan Gunung Gelap sudah bisa dilalui. Gerimis yang tadi menghantui seakan tidak jadi menjelma hujan dan berganti menjadi terik mentari. Kami mulai menyusuri perkampungan padat penduduk. Hutan belantara berganti menjadi alam pedesaan yang mulai bernuansa kota. Mini market berjejer rapi di kiri dan kanan jalan. Panorama menjadi tidak asyik lagi.

Terik mentari membuat sore itu menjadi terang tanpa sisa hujan. Pandangan aneh para pejalan kaki tertuju pada kami yang masih mengenakan jas hujan lengkap two pieces. Akhirnya kami sempatkan melepas jas hujan sebelum terlalu menjadi ’Alien masuk kota’.

Menit demi menit berlalu, hingga kemudian roda-roda sepeda motor berpijak pada tanah berpasir menandai tujuan kami sudah dekat. Tak lama, pemandangan indah itu terhampar di pelupuk mata.
Di balik tetumbuhan mangrove yang menjulang, ombak saling bertautan di pantai dengan indahnya. Hari sudah menjelang senja. Prosesi sunset akan dimulai sebentar lagi. Cepat-cepat kami m
emesan kamar di penginapan terdekat. Semua sepeda motor sudah terparkir apik dan ransel sudah tidak melekat di punggung lagi. Dengan setengah berlari, kami memburu sunset. Menapaki tiap inchi batu karang. Melebur dan membasahi tubuh dalam ombak. Mengabadikan setiap momen terbaik dalam jepretan foto atau selembar video. Arakan awan hitam menggelayut hingga sunset berlalu tanpa kami sadari. Biarlah, hal itu tak sedikit pun mengurangi kegembiraan ini. Jemu dan lelah seperti seluruhnya terbasuh disini ; dalam suatu temaram senja di Pantai Santolo.

Daisy Grenita


(to be continued)


Santolo Beach, West Java, Indonesia


The sea’s only gift are harsh blows and, occasionally, the chance to feel strong. Now, I don’t know much about the sea but I do know that, that’s the way it is here. And I also know how important it is in life, not necessarily to be strong but to feel strong, to measure yourself at least once, to find yourself at least once in the most ancient of human condition. Facing the blind, deaf stone alone with nothing to help you but your hands and your own head.

(Alexander Supertramp)

Sebuah Cerita Berjudul Reinara Selina

Pagi yang biasa. Duduk di depan komputer. Tanpa mandi. Tanpa sarapan. Tanpa seorang teman pun. Hanya alunan lagu Take A Bow dari Rihanna yang memenuhi gendang telinga. Segalanya bergulir seperti biasa.

Setelah hampir dua jam mencoba menyelesaikan tugas kuliah, kejenuhan menyergap. Iseng-iseng, ku buka beberapa folder yang berisi tulisan – tulisanku terdahulu. Tiba – tiba mataku tertumpu pada satu file yang bernama Reinara Selina. Ingatanku terpaut pada satu hari di enam bulan lalu. Dikala tanpa aba – aba, ia menghampiriku. Sebuah inspirasi yang tak pernah ku tahu bagaimana bisa sampai ke benakku. Sebuah nama yang membanjiri imaji tanpa pernah ku kenal sebelumnya.

Reinara Selina. Nama itu terus terekam di pikiranku sampai berhari – hari berikutnya. Membuatku merasa gundah karena tidak pernah berusaha mengindahkannya. Sampai di suatu malam, emosi dari inspirasi itu datang lagi. Memaksaku meniadakan jam tidur untuk duduk di depan komputer dan menulis. Setelah melewati beberapa malam panjang yang menguras energi, inspirasi itu merasakan sensasi hidup. Tertuang dalam sebuah cerita pendek yang ku beri judul Reinara Selina ; sebuah nama yang bagiku adalah ruh dari inspirasi itu.

Kini, perlahan – lahan ku baca lagi beberapa bait pertama dari cerita pendek itu.

”Adakah harimu indah?. Tenggelam dalam padat dan bising yang khas aroma kota. Mungkin telah habis dunia kita yang penuh canda. Saat dimana aku dan engkau pernah bahagia. Masihkah kau ingat tentang kita yang terbakar mentari Kuta dan dibungkus hasrat yang menyala – nyala?. Kita berlarian mengejar arakan awan di pantai berbalut hangat lembayung Bali. Terbaring di pasir senja. Angin laut dan ombak pasang terasa begitu ramah menyapa. Kau tertawa, aku pun tertawa. Kita muda dan bahagia. Saat itu ku temukan riang di wajahmu yang bersisian indah dengan mentari di penghabisan siang.

Hingga badai porak – porandakan sisa hari. Hujan menghitamkan malam. Temaramnya wangi bunga dan pepohonan tak lagi bisa kita rasakan. Dingin merasuk di tubuhmu yang diapit dua belah tangan. Perapian mati. Kita berbagi cahaya redup dari sebuah lilin putih. Bersama memunguti jejak malam ditemani suara Burung Hantu dan belasan batang rokok yang tak lama berubah jadi abu. Hangat nafasmu terasa dan diammu tak henti berkata, berceloteh. Kita kenang manis keberhasilan dan kegagalan hidup untuk nanti disimpan lebih erat dalam benak. Sampai di penghabisan gelap, ku lihat air menguap dari jelaga matamu. Keadaan memaksa raga kita untuk saling menjauh. Tangismu hadir diiringi gerimis yang jatuh. Adakah kau lihat jua tangis di mataku?. Embun menghiasi dinding fajar. Pagi merenggutmu dariku.

Baru sekarang ku tahu, rindu bisa begitu membuat helaan nafas terasa sakit. Rindu akan perasaan lembut yang menggerayangi teras hati. Kehadirannya memaknai riang dan luka yang terjalani. Tetap ku rangkum harummu bersama pijar yang tak kunjung lekang. Menantimu berdamai dengan ego. Tapi kini hadirmu seakan sirna bagai petir yang mati di terik mentari Bulan Juli.

Aku mengenangmu dalam buih di air dan tapak kaki yang kita jejakkan di Pantai Kuta. Akan selalu ku ingat wangi rambutmu yang basah, ombak yang terhempas di tepian, rakit yang melaju, kaki kita yang terbenam di pasir dan suatu tempat di Denpasar dimana kita tak sengaja bertemu.”

***


Melalui cerita ini, ku rasakan sensasi mengenal seorang Reinara Selina. Sosok yang datang melalui pertemuan aneh yang masih menyisakan tanda tanya di hati. Seseorang yang hadir beserta keindahan alam Bali ; kota seribu candi yang bahkan tak pernah ku sambangi. Ajaibnya, dalam proses menulis cerita ini bisa dengan utuh ku rasakan hangat mentari Kuta atau indahnya rembulan di langit Denpasar.

Reinara Selina. Ia akan selalu ada menyesaki udara yang ku hirup. Hadir ditemani sejurus kenangan indah yang tertinggal. Tanpa perlu ku melihat, ia menari bersama ombak di pelupuk mataku. Tanpa perlu ku mendengar, ia bicara dalam kelembutan bahasa yang dimengerti hati. Mungkin tak kan pernah ku lihat ia dalam pesona ragawi tapi berkenalan serta berbagi pengalaman dengannya adalah kesempatan megah yang membuatku merasa cukup.

Daisy

Kamis Yang Tak Biasa

Ketika yang tertinggal hanya senyap, ku melayang hilang, melebur dalam panas mentari hasrat dan dingin udara. Dunia yang biasa dihinggapi kakunya rias teori dan pena seakan tertinggal jauh di belakang. Dalam diam ku berucap ; Inikah passion yang dapat mengisi kekosongan hati?. Inikah rumah yang ku cari?.

Di satu titik ketinggian, ku sadari kemahaan-Nya.
Ciwidey, 29 Januari 2009.

A Second in The Bus


A second in t bus when I felt in love with you. After years, you’re still the only one I call my angel.

Di Dalam Bis Malam

Catatan 16 Januari 2009

Seperti biasanya, ku putuskan untuk pulang ke kotaku dengan bis malam. Kepalaku mendadak pusing, entah karena banyaknya hal yang menjejali pikiranku atau karena tonjokan nikotin yang ku isap sebelum berangkat tadi.

Masih bisa ku ingat, kursi yang kududuki berada di deretan paling depan sebelah kiri dari Pak Supir. Sengaja ku ambil posisi di dekat jendela agar bisa membunuh bosan selama perjalanan dengan menikmati panorama. Berselang tak begitu lama, seorang perempuan muda, cantik, duduk di sampingku. Seperti aku pernah mengenalnya tapi aku tak berhasil mengingat dimana. Ia asyik berbenah dengan lamunannya sendiri. Syukurlah, karena dengan begitu ia tak berniat mengobrol; hal terakhir yang akan ku lakukan bila sedang berkendara.

Keresahan telah sedari tadi seperti biasa mengambil alih fungsi kepalaku. Keresahan tentang dia yang hadir menghiasi hariku di beberapa bulan terakhir. Dia yang kutahu sedang mempersiapkan keberangkatannya untuk penelitian menuju Lapas Nusa kambangan malam ini. Sengaja ku tak disana menemani keberangkatannya. Alasannya sederhana saja ; kekasihnya akan ada disana. Kendati ku sayang dia dengan sepenuh jiwaku. Kendati ku merasa begitu nyaman bersamanya. Tapi tak kan lagi ku biarkan hatiku tergores luka. Lebih baik ku memilih pergi daripada melihatnya bersama kekasihnya mengumbar kecup dan peluk mesra.

Perjalanan menuju kotaku senja ini seolah membuka sebentuk gerbang baru yang harus ku masuki. Yang mungkin di dalamnya terdapat sejumput jawaban atas inginku akan hidup, tentang dia. Untuk sesaat, siluetnya tergambar dalam himpitan awan di langit.

Menemukan Artimu

Jika jawaban hidup
Tersimpan pada arakan awan
Maka akan ku pinta menepi disini
Membagikan kisah sejati
Yang ada di utara sana

Seketika mimpi – mimpi bertaut
Pulang dari pengembaraannya
Mungkin waktu tidak akan sama lagi
Karena kita, sendiri – sendiri
Akan merengkuhnya dalam nyata

Andai cinta kembali
Memercik hati yang lugu
Mungkinkah ia embun yang ku tunggu
Terlihat mesra di awal hari
Hingga sejuknya tersimpan
Di rongga hati dan derap langkah
Menghantarku kelak
Menemukan artimu


Begitu asyiknya dengan pikiranku sendiri, hingga tidak ku perhatikan keadaan sekeliling. Perempuan di sampingku telah terlelap tidur, aku tetap tak berhasil mengingat dimana kami pernah berkenalan. Lelah juga mendera tubuhku tapi tak cukup hebat untuk memaksaku tidur saat ini.

Malam telah sempurna melunturi langit, panorama jadi tak begitu indah. Ku putuskan mendengarkan radio melalui handphone. Sempat ku dengar beberapa lagu terlantun dan suara berisik dari penyiarnya sebelum akhirnya ku terlelap. Belum terlalu lama, kondektur membangunkanku sembari menangih ongkos. Damn. Ku rutuk kondektur itu yang tak membiarkanku merebahkan letih walau sekejap.

Semakin lama, semakin bis ini disesaki banyak penumpang. Semakin tak bisa ku memejamkan mata. Hanya kosong yang kembali ku rasa. Dia kan pergi melakoni tugasnya dan melewatkan satu malam istimewa dalam hidupku ; malam pergantian umurku. Ya, tepat tengah malam nanti umurku akan bertambah dan semoga dia masih mengingatnya. Aku tak ingin alarm handphonenya mati sehingga dia terlena dalam lelap atau perjalanannya tidak menyenangkan sehingga dia kehabisan energi untuk sekedar mengirim sms ucapan happy birthday. Tidak lagi ku tahu apa yang bisa terjadi lebih menyakitkan selain dari itu.

Ada sepintas urat kenangan yang ku tangkap di temaramnya hari ini. Ku ingat tiga malam lalu disaat aku, dia dan beberapa teman menghabiskan waktu makan malam di tempat favorit kami. Sebenarnya acara malam itu ber- tittle pembubaran panitia kegiatan dimana dia terlibat penuh di dalamnya, sementara aku hanya bagian dari tim pengarah yang sebetulnya memang tidak perlu ada. Tapi aku tetap keukeuh ingin terlibat dalam mempersiapkan kegiatan itu karena ingin selalu berada di dekat dia ; satu – satunya alasan yang bagiku masuk akal. Kami habiskan setiap detiknya dengan bercerita dan tertawa, terlupa akan kegiatan yang hampir menguras seluruh energi kami. Hingga malam semakin larut, ku tahu waktuku bersamanya tidak lagi tersisa banyak. Karena setelah itu, mungkin tidak ada lagi alasan bagiku untuk berlama – lama bedekatan dengannya. Tidak ada lagi cerita tentang kami yang berakrobat dengan waktu mempersiapkan seluruh kebutuhan kegiatan. Tidak ada lagi tubuh lunglai yang membutuhkan pundakku untuk melepas lelah. Tidak akan ada lagi tawa kami yang sebegitu lepas seperti malam itu. Mendadak aku ingin menangis.

Aku sadar tak bisa memaksakan kehendak hati ini terhadapnya tapi bagiku rasa ini layak diberi kesempatan. Entah apa yang akan terjadi esok dan seterusnya tapi aku tahu apa yang akan ku minta pada prosesi make a wish di pergantian umurku tepat tengah malam nanti. Biarlah ku simpan dalam inti hati. Saat ini, ku ingin segera tiba di rumah dan meniup bara di atas lilin merah.

Masih tertunda dan belum semua ku katakan
Biar ku tunggu sampai kau kembali lagi disini
Harus kau dengar semuanya harus kau dengarkan
Isi hatiku, tentang hatiku
Yang belum ku sampaikan
(Ipang – Sekali lagi)

Daisy.